Berita Online Bisa Kontekstual

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Berita Online Kontekstual (2)

ISTILAH “jurnalisme kontekstual” barangkali tak setenar istilah-istilah jurnalisme lainnya. Meski begitu, jurnalisme kontekstual nyatanya paling intens diterapkan oleh koran-koran bergensi di Amerika Serikat (AS). Pada era digital ini, alih-alih tersingkir, jurnalisme kontekstual semakin relevan tak hanya untuk jurnalisme cetak, melainkan juga online.

Sebelum mendiskusikan media online, mari kita flashback ke media konvensional.

The New York Times, The Washington Post, dan the Milwaukee Journal Sentinel menjadi benchmark jurnalisme AS. Ketiganya, dalam lima dekade terakhir, rupanya memiliki kecenderungan gaya pemberitaan yang sama. Jumlah kata dalam berita bertambah. Isi berita tak melulu fakta-fakta keras. Interpretasi jurnalis tak ragu hadir di dalam berita-berita mereka. Katherine Fink & Michael Schudson menyebut fenomena itu sebagai “jurnalisme kontekstual.”

“Jurnalisme kontekstual” mungkin tak populer terdengar di kalangan praktisi. Kathy Roberts Forde, pakar sejarah jurnalisme AS, menjelaskan penyebabnya. Menurutnya, tak ada standar untuk menyebut jurnalisme jenis itu. Ada banyak istilah muncul: laporan interpretif, laporan mendalam (in-depth), jurnalisme bentuk panjang, laporan eksplanatif, dan laporan analitis. Kesemua istilah jurnalisme itu mengarah ke esensi yang sama yaitu memberikan makna pada fakta-fakta jurnalistik.

Pada 1950-an hingga 1960-an, jurnalis AS dan para politisi adalah kawan. Tak ayal, berita-berita yang muncul seringkali adalah salinan selebaran atau notulensi rapat. Pers cenderung bersikap kooperatif dengan pemerintah. Suaranya membebek penguasa. Jurnalis gaek Paul Duke bersaksi jurnalisme AS era itu memang bikin ngantuk. Jurnalisme lama itu semata-mata mendeskripsikan peristiwa dan menjadi corong penguasa.

Jurnalisme AS era sekarang, menurut Fink & Schudson, tak lagi mengandalkan sumber-sumber pemerintah. Artikelnya cenderung panjang, mendalam, dan agresif. Analisanya padat dan kaya interpretasi. Pada halaman muka the Times, the Post, dan the Journal Sentinel era 2000-an, terpampang berita-berita yang sarat data dan penjelasan.

Berlawanan dengan klaim banyak orang, genre jurnalisme kontekstual menguat di AS akhir-akhir ini. Hal itu karena media pers di AS semakin bangga menjadi independen. Mereka juga mengedepankan skeptisisme dan profesionalisme. Para jurnalis juga semakin intelek dan ambisius. Mereka sadar kehidupan warga makin kompleks. Jurnalisme deskriptif tak lagi mampu mengemban kompleksitas itu. Lebih-lebih, teknologi semakin canggih. Data mudah didapatkan atau diolah dari mana pun.

Bukti eksistensi spirit jurnalisme kontekstual tampak pada jurnalisme investigasi yang marak di AS (lihat daftar situs yang menerapkan jurnalisme investigasi). Media pers AS berlomba menyajikan jurnalisme investigasi yang berhasil. Lebih dari melaporkan korupsi, mengamati pola dan perubahan, jurnalisme investigasi berambisi mengungkap hal-hal yang selama ini diabaikan di masyarakat. Laiknya jurnalisme kontekstual, jurnalisme investigasi memberikan makna pada fakta dan menunjukkan mengapa fenomena itu penting untuk diketahui publik.

Berita Online Kontekstual

Sementara jurnalisme arus utama AS nyatanya mengejar kedalaman dan kontekstualitas, apakah kecenderungan serupa juga hadir pada jurnalisme Indonesia? Sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut tanpa disertai dengan riset yang rigid.  Akan tetapi, jika melihat sejarah pers tanah air, pers pasca kemerdekaan barangkali malah tak unggul di kelas mana pun.

Berita deskriptifnya menggunakan sumber tidak kompeten, bahkan sumir dan anonim (lihat artikel Erman Anom dan Lukas Deni). Pada era Soeharto, ‘pers pembangunan’ dipelintir menjadi laporan-laporan manis untuk menyenangkan pemerintah. Sementara, berita-berita yang disebut  mendalam dan investigatif tak lain hanyalah kumpulan-kumpulan berita pendek berisi kutipan opini narasumber inkompeten dan  miskin interpretasi jurnalis.  Benedict Anderson tidak ragu meledek mutu jurnalisme Indonesia kontemporer malah tak sebagus jurnalisme di era Hindia Belanda.

Kritik Anderson itu terlontar ketika penetrasi Internet tak sedalam sekarang. Pada era digital ini, jurnalisme kontekstual semestinya  mendapatkan ruang di media arus utama. Jurnalisme arus utama perlu mereposisi konten menjadi jurnalisme kontekstual. Media konvensional sulit menaklukkan media online jika menggunakan model berita konvensional. Media online dapat meluncurkan berita-berita deskriptif dengan cepat dan interaktif. Kekuatan pada media online memang terletak pada kecepatan, baik di distribusi maupun eksebisi berita (baca ini).

Meski media konvensional berupaya mengejar kontekstualitas demi membangun diferensiasi dengan media online, toh realnya,  jurnalisme kontekstual pun tidak eksklusif untuk media konvensional.

Selama ini orang menganggap media online hanya cocok mengunggah berita-berita pendek dan semata-mata bersandar pada fakta. Ini seperti mengutuk media-media online hanya dapat melaporkan breaking news, bahkan lebih buruk dari itu. Fakta dicicil sepotong-sepotong, belum ada verifikasi lengkap tapi sudah diunggah (churnalism). Padahal, media online mampu melampaui semua konvensi jurnalisme kontekstual di media arus utama. Sebab, seperti kata John Pavlik, media online unggul di hypertextuality ketimbang media konvensional.

Pedangdut Irma dipatuk Kobra (2)

Jurnalisme kontekstual media lawas masih dibatasi oleh ruang bidang dan durasi. Tak begitu halnya dengan jurnalisme online. Hypertextuality memungkinkan hadirnya latar historis atau konteks sosial atas peristiwa yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Sayangnya, hypertextuality ini tidak dipakai , misalnya, untuk menjelaskan mengapa pedangdut perempuan sampai rela tampil bersama ular Korba.

Pedangdut Irma Bule tewas akibat gigitan kobra kala keduanya tampil bersama. Berita-berita online Indonesia mengekspos sensasinya belaka. Peristiwa tragis hanya masuk dalam kolom hiburan (lihat berita Tempo). Media online Indonesia tidak satu pun menyelidiki lebih lanjut mengapa sampai ada pedangdut harus tampil dengan kobra! Time memberi interpretasi atas peristiwa itu dengan mengutip Made Supriatma (sayangnya, kutipan-kutipan itu Time tidak berasal dari wawancara langsung jurnalisnya, tapi hanya merujuk pada media lain dan akun Facebook Supriatma.)

Berita online kontekstual Indonesia bukan berarti tak ada sama sekali. Sejumlah media online menampilkannya dalam kolom khusus dengan nama seperti Sorot, Liputan Khusus, dan sebagainya. Tapi perlu diteliti juga: apakah kolom-kolom itu menambah data baru lantas memberinya konteks, atau hanya membundel berita-berita pendek yang sudah terbit saja dengan sedikit penulisan ulang. Kompas.com mendahului pesaingnya. Ia meluncurkan portal VIK.Kompas.com. Portal itu mengoptimalkan pengalaman virtual kala membaca. Berita-berita yang diunggah di sana cenderung lebih panjang dan sarat dengan data (baca ini).

Dengan segenap kelebihannya, jurnalisme online berpeluang lebih kontekstual dan relevan untuk dibaca.

<0>

ARTIKEL TERKAIT

Jurnalisme Steno: Melaporkan Berita Nir-Konteks