Digi Journalism: Situs Pertama Awasi Praktik Jurnalisme Online di Indonesia

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

11205627_1479239645713472_493478084068429842_n

PADA Kamis (10/9) lalu, situs www.digi-journalism.or.id diluncurkan di Yogyakarta yang dibarengi dengan diskusi publik: “Jurnalisme Online: Truth in the Making?” Situs ini bertujuan untuk melakukan monitoring berita-berita media online dan mendiskusikan isu-isu etika dan profesionalisme yang muncul dalam praktik jurnalisme online di Indonesia.

Bertempat di Gedung University Club, Universitas Gadjah Mada, peluncuran situs dan diskusi publik tersebut dihadiri oleh pembicara dari Dewan Pers, Imam Wahyudi, aktivis wartawan AJI perwakilan Yogyakarta Bambang Muryanto, dan salah satu tim peneliti jurnalisme digital Kuskridho Ambardi, yang juga Ketua Prodi S-2 Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada.

Hadir pula memberi sambutan, R. Kristiawan, Manajer Program untuk Media dan Informasi Yayasan Tifa, dan Dr. Erwan Agus Putranto, Dekan Fisipol, Universitas Gadjah Mada yang sekaligus secara resmi meluncurkan situs tersebut dan membuka diskusi publik.

Lebih dari 200 peserta hadir meramaikan diskusi. Sebagian dari mereka adalah para akademisi dari Yogyakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sebagian lainnya adalah para wartawan, mahasiswa, dan masyarakat umum peminat jurnalisme online yang aktif memberi tanggapan dan bertanya dalam diskusi.

R Kristiawan, Manajer Program untuk Media & Informasi Yayasan TIFA, mengatakan bahwa digi-journalism.or.id ini adalah situs pertama di Indonesia yang secara khusus mengawasi dan mengevaluasi praktik jurnalisme online di Indonesia. Inisiasi Digi-Journalism itu disambut baik oleh Dr. Erwan Agus Purwanto sebab menurut Erwan banyak ketidakberesan praktik jurnalisme online di Indonesia yang perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat sipil dan kalangan kampus.

Adanya praktik jurnalisme online kurang sehat itu diamini oleh aktivis AJI Yogyakarta Bambang Muryanto. Tuntutan kecepatan dan orientasi ekonomi portal berita menurutnya membuat para junalis online menulis berita dengan ciri lemah verifikasi, sensasional, seragam, dan kurang dibutuhkan publik.

Koordinator Digi-Journalism Kuskridho Ambardi menuturkan bahwa media online selama ini seakan telah bersandar pada argumen “truth in the making”, yaitu menyampaikan “truth” secara dicicil, tergantung pada kapan validasi dan verifikasi selesai dilakukan.

Melihat fenomena media online tersebut, anggota Dewan Pers Imam Wahyudi menekankan bahwa seharusnya tidak ada yang berubah dari prinsip jurnalisme pada media online, yang berbeda hanyalah pada implementasinya.

Diskusi tersebut menarik minat para peserta untuk bertanya. Salah satu peserta Idha Saraswati menanyakan bagaimana perkembangan model bisnis media online sejauh ini mengingat karakter media tersebut berbeda dari media konvensional.

Adapun tim peneliti yang sekaligus penyelenggara acara peluncuran dan diskusi publik ini terdiri dari empat orang: Gilang Parahita, Adam Sukarno, Lisa Lindawati, dan Kuskridho Ambardi.

Materi pembicara selengkapnya dapat diakses di rubrik Kompendia.

(GP)