Jurnalisme Jejaring di Indonesia?

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Networked Journalism (2)

KEHADIRAN jurnalisme online dirayakan di berbagai belahan dunia dengan membawa sejumlah kontradiksi. Berkat teknologi, ia diunggulkan karena kemampuannya memberikan kabar jauh lebih cepat kepada khalayak ketimbang media konvensional, tetapi tak jarang akurasi data dan fakta yang menopangnya menjadi persoalan. Jurnalisme online membukakan akses bagi audiens untuk terlibat dalam pelaporan peristiwa, namun kerapkali berita yang merangkumnya hanya berkualitas sub-standard. Ia melipatgandakan jumlah informasi yang beredar di wilayah publik tetapi semuanya tak selalu sepadan dengan bobot yang dibawanya.

Tak semua dampak revolusi digital adalah kabar buruk bagi jurnalisme dan bagi publik, tentu. Kabar baik tentang praktik jurnalisme online datang dari eksperimen yang dilakukan sejumlah korporasi besar dan jurnalis profesional yang menginisiasi dan mengembangkan hibrida baru: networked journalism atau jurnalisme jejaring.

BBC mengerjakannya di tahun 2010, saat gempa besar menghantam Haiti, sebuah negara kecil di perairan Karibia.

Ada dua alasan bagi media besar untuk membuat laporan langsung tentang gempa itu. Estimasi awal yang diberikan Pemerintah Haiti, korban gempa mencapai 230 ribu. Karena itu, dari segi magnitude, gempa Haiti memiliki nilai berita yang tinggi. Dari segi kemanusiaan, jumlah korban sebesar itu menyulut sentimen dan solidaritas internasional. Persoalannya, berbagai media besar – apalagi yang kecil – tidak memiliki koresponden di kawasan yang relatif terpencil. Di tingkat global, Haiti bukanlah sebuah negara penting secara ekonomi, politik, atau secara militer, dan posisi inferior initak membikin media besar menginvestasikan korespondennya di sana. Sementara untuk mengirimkan reporter ke pojok-pojok Haiti memerlukan waktu panjang, padahal berita mesti disegerakan.

Dalam situasi sulit ini, BBC memutuskan untuk memecah pembatas antara yang amatir dan yang profesional. Dengan memaksimalkan fungsi internet, BBC mengintegrasikan feeding dari twitter yang dikirim para relawan dan penduduk lokal – para amatir di lapangan– ke dalam reportasenya. Dan rangkaian laporan rinci segera bisa disiarkan ke dunia. Sepotong tweet yang mendeskripsikan situasi riil dan mutakhir di ibukota Haiti, yang dikirimkan Frederic Dupoux, “Hampir semua orang berkemah di setiap ruas jalan di Port-au-Prince, tidur di bawah langit dan setiap kali terjaga oleh mimpi buruk.”

Sejak itu, tweets, kiriman foto Instagram, blogging, dan video amatir dari berbagai pelosok Haiti menjadi bagian pokok dari laporan jurnalistik BBC. Crowdsourcing atau teknik sumber jelata ini kemudian dikombinasikan dengan informasi yang berasal dari wartawan mereka yang datang kemudian, dengan sumber pemerintah, dan berbagai laporan LSM kemudian berevolusi menjadi platform networked journalism atau jurnalisme jejaring BBC. Platform ini kemudian berkembang dan terus digunakan oleh BBC, The Guardian, dan sejumlah media konvensional lain untuk melaporkan Pemilu Inggris 2010.

Tahun 2009 Sky News menugasi Ruth Barnett untuk sebuah posisi baru sebagai koresponden twitter. Penugasan dan posisi baru ini sempat menjadi olok-olok sejawat media dan wartawan di Inggris. Namun, saat peristiwa bom meledak di stasiun kereta bawah tanah di Moscow pada bulan Maret 2010, olok-olok itu justru menjadi percuma. Sky News berhasil mendapatkan sebuah rekaman video CCTV eksklusif yang menggambarkan detik-detik peledakan bom, yang kemudian disiarkan ke penjuru dunia. Video eksklusif itu tidak akan diperoleh Sky News seandainya mereka menyerah pada olok-olok yang ditembakkan para sejawatnya.

Praktik yang dikembangkan kemudian, Sky News tidaksekadar memanfaatkan twitter dan media sosial sebagai feeding untuk newsroomtetapi ia juga untuk memperluas jaringan reportase dalam proses newsgathering, pengumpulan bahan berita. Hampir setiap reporter Sky News kini memiliki gurita jaringan di media sosial yang berfungsi sebagai radar pengendus berita.

Berbeda dengan BBC, The Guardian dan Sky News yang berupa korporasi besar, Mumsnet di Inggris lahir dari eksperimen jurnalisme jejaring non-korporasi yang dimotori oleh kelompok independen. Ia didirikan oleh sejumlah jurnalis independen dengan ratusan node individu dan komunitasyang membentuk jejaring besar, dan situs itu merangkum tema luas mulai dari isu pengasuhan anak, kegiatan dan tujuan liburan, sampai dengan isu-isu politik.

Sumber utama informasi yang terpublikasikan di Mumsnet berasal dari para anggotanya yang tersebar di berbagai tempat. Topik informasi dan diskusi di site itu ditentukan berdasarkan kesepakatan di antara anggotanya. Kecuali filter terhadap kata-kata kotor, makian dan serangan yang bersifat personal, publikasi informasi tidak disensor oleh pengelola dan adminnya. Bahkan, para warga komunitas di sana dilarang untuk menghapus apa yang telah dituliskan. Nampaknya, kebijakan bebas sensor ini adalah untuk memaksa kontributor mempertanggungjawabkan apa yang dituliskannya. Dengan keragaman topik dan komunitas yang terangkum dalam jejaring Mumsnet, aneka sudut pandang terhadap sebuah isu dan peristiwa bisa terangkum dan plot cerita tidak lagi bersifat linier. Sementara para pengelolanya, yang memiliki latar belakang jurnalis profesional, lebih berfungsi sebagai fasilitator dan kurator informasi dan berita ketimbang sebagai editor dan selektor.

Jangkauan sosial dan politik Mumsnet mendorong Ed Milliband, tokoh Partai Buruh Inggris, untuk bercakap dengan aneka komunitas di chattingroom Mumsnet menjelang Pemilu 2010.

Sejumlah eskperimen jurnalisme jejaring lain berhasil membangun keterlibatan warga komunitas, seperti yang dilakukan oleh The Daily Telegraph di tahun 2007. Di tengah apatisme publik terhadap politik normal yang terus meningkat, jejaring jurnalisme online ini mampu membawa banyak warga untuk berinteraksi, berdiskusi, dan menyelesaikan problem-problem kolektif secara mandiri.Platform yang dikembangkan The Daily Telegraph adalah arena virtual untuk para blogger. Dari 60 ribu pelanggan terdaftar, sekitar 13 ribu adalah blogger aktif. Yang menarik, di saat yang sama, para blogger ini bisa menjadi aktor sentral untuk melaporkan dan meng-update sebuah peristiwa yang memiliki nilai berita ketika peristiwa itu terjadi di wilayah tinggal sang blogger. The Daily Telegraph lantas mengintegrasikannya ke dalam halaman-halaman mereka.

Berbagai praktik jurnalisme jejaring ini semakin mapan menjadi sebuah hibrida baru di Eropa dan Amerika Utara dan di beberapa negara Asia.Sejumlah kelebihannya bisa didaftar. Crowdsourcing yang menjanjikan pemutakhiran informasi secara reguler bisa dieksekusi dengan biaya yang relatif rendah. Plot peristiwa yang dalam jurnalisme sebelumnya cenderung bersifat linier berkembang menjadi sebuah laporan multi-plot yang bercabang dengan aneka sudut pandang. Meminjam ungkapan blogger Jeff Jarvis, networked journalism mengambil bentuk kolaborasi antara jurnalis profesional dan amatir untuk mendapatkan berita dan informasi yang komprehesif, menautkan wilayah yang sebelumnya terpisah untuk berbagi fakta, pertanyaan dan jawaban, ide dan perspektif.”

Pertanyaannya, sejauh mana kualitas berita informasi dan berita yang diproduksi melalui jurnalisme jejaring ini memenuhi standar kualitas jurnalisme yang baik? Para jurnalis profesional tetap berperan di sana. Hanya saja, mereka lebih berfungsi sebagai kurator dan fasilitator, bukan sebagai pengkhotbah dan penyensor. Di Indonesia? Praktik ini sudah berjalan sebagian, namun tak ada buruknya membandingkannya dengan praktik-praktik di belahan dunia lain.

(KA)