Jurnalisme Online: Cepat Tapi Tidak Akurat

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jurnalisme Online -Cepat, tapi Tidak Akurat (2)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“SPEED KILLS!”. Slogan yang awalnya digunakan oleh pegiat keselamatan lalulintas nampaknya sangat pas untuk menggambarkan praktik jurnalisme online saat ini, ketika kecepatan menumpulkan akurasi pemberitaan.

Hampir dua dekade setelah booming peluncuran 150 situs jurnalisme di Amerika Serikat, praktik jurnalisme online mengalami perubahan radikal. Dalam kolom USA TODAY tahun 2012, Don Campbell, seorang praktisi dan pengajar jurnalisme di Amerika Serikat, melihatnya sebagai sebuah cara baru bercerita. Ada dua hal yang dia amati saat itu, yakni adaptasi media lama dalam menghasilkan konten multiplatform dan upaya merumuskan standar baru praktik jurnalisme online.

Dari dua hal itu, kerisauan terbesar Campbell sebenarnya justru ada pada poin kedua. Dia melihat  jurnalisme online telah menjadi bagian dalam proses pengaburan fakta saat menyusun berita. Sebagai akibatnya, muncul banyak berita sampah yang justru bertahan hidup di internet tanpa ada gugatan yang berarti.

Contoh menarik datang dari praktik jurnalistik di Amerika Serikat dan Myanmar. Beberapa produser berita terkenal di Amerika seperti CNN, The Associated Press, Fox News and The Boston Globe mengalami persoalan  ketika melaporkan peristiwa bom Boston Marathon 2013. Mereka beramai-ramai membuat laporan cepat namun prematur karena berasal dari sumber yang tidak kredibel. Berita prematur ini muncul karena beberapa media ini salah  melaporkan tertangkapnya pelaku bom Boston.  Akibatnya, akurasi berita mereka dipertanyakan.

Problem serupa sebelumnya muncul di Myanmar tahun 2005. Saat itu AP mengeluarkan laporan bahwa pemimpin militer Shan State menyerahkan senjata sebagai bagian dari proses perdamaian.  Padahal fakta sebenarnya lebih kompleks dan menarik. Lima bulan sebelumnya, pemerintah Myanmar melakukan berbagai cara mulai tekanan pada pimpinan Shan State hingga menghasut pihak ketiga untuk menyerang kelompok Shan State agar mereka menyerahkan diri. Laporan AP itu tepat dari sisi waktu, namun menjadi persoalan karena tidak akurat dan tidak memasukkan fakta-fakta penting yang lebih kompleks. Akibatnya kemunculan berita ini justru meningkatkan tensi ketegangan antara pemerintah dan pihak Shan State.

Di Indonesia, media online muncul tahun 1994 diinisasi oleh Republika dan kemudian disusul oleh Tempo & Bisnis Indonesia (1996) serta Kompas (1997). Pada awalnya, praktik yang dilakukan adalah memindahkan konten cetak ke internet. Sehingga dapat dikatakan, dalam kurun waktu ini, media online di Indonesia merupakan salinan versi cetak.  Dengan kata lain pula, belum ada perbedaan praktik jurnalisme di media konvensional dan media online.

Baru mulai tahun 1998, dengan kemunculan Detik.Com, praktik jurnalisme online sedikit bergeser. Praktik konvensional ditinggalkan dan mulailah praktik baru ala running news dengan menyajikan berita berseri mengadopsi praktik yang telah dilakukan di kantor berita asing.

Speed-driven journalism, demikian praktik baru ini dikenal.  Bentuk laporan yang mementingkan kecepatan, lebih singkat, lebih pendek dan memberi ruang pemutakhiran informasi oleh jurnalis. Prinsipnya, “get it first!”,atau jadilah peliput yang pertama dengan mendahului jurnalis lain. Praktik ini diadopsi media online semata-mata  dikendalikan oleh prinsip kecepatan.

Tentu saja, ada keuntungan dan kerugian saat media online memilih cara baru dalam praktik penulisan berita. Sisi kerugian lebih dirasakan audience sebab berita (fakta dan pernyataan) banyak yang tidak terverifikasi, dan portal-portal ini jarang menampilkan  laporan berbentuk in-depth. Selain itu, informasi yang tersaji juga tidak mempertimbangkan aspek kelengkapan berita. Sementara, keuntungan berada pada media karena praktik ini menjanjikan efiesiensi, yaitu publikasi instan yang memungkinkan jurnalis memperbaharui dan mengoreksi berita yang dianggap keliru.

Pun demikian, ternyata ada alasan lain mengapa praktik memicu gejala umum di berbagai penjuru dunia. Dari kacamata ekonomi, praktik ini mampu meningkatkan  pendapatan media yang diperoleh dari iklan dan traffic berita (Lewis & Cushion, 2009; Nyhan, 2013; dalam Lee, 2014).

Terlepas bahwa ada motif ekonomi melalui komodifikasi berita, terdapat problem fundamental dalam praktik speed-driven journalism. Salah satunya, problem pokok speed-driven journalism terletak pada tafsir speed yang variatif.  Di media online luar negeri, situs berita masih memberikan ruang liputan investigatif. Bahkan The Sydney Morning Herald memiliki unit khusus yang bertugas menggali informasi  dari dalam dan lintas negeri yang kemudian dilaporkan dalam format investigasi dalam situs mereka.

Praktik berbeda dilakukan CNN. Berita dilaporkan memaksimalkan sarana multimedia. Dalam satu berita di situs CNN misalnya, ditemui berita teks yang dikombinasikan dengan tautan  streaming video . Update berkala dilakukan melalui tayangan video dalam interval 10 menit. Pada beberapa kasus, CNN juga mencantumkan tautan yang berasal dari media sosial.

Di Indonesia, speed-driven journalism ditafsirkan oleh media online dalam praktik gaya Detik.Com, yaitu ringkas to the point.  Praktik ini memungkinkan berita ditulis dengan cepat, karena hanya tersusun dari dua sampai tiga paragraf tanpa seksama mempertimbangkan akurasi.

Detik.Com, misalnya meniru gaya kantor berita asing dan CNN melalui format running news. Perbedaannya, tidak muncul gaya multimedia ala CNN atau update berita berkala secara terukur dalam waktu singkat dengan media multiplatform. Di berita soal konflik Ahok dengan DPRD DKI (baca di sini), pada jam 08.30 WIB, hanya ada dua tautan berita. Kedua tautan itu diunggah pada jam 07.38 WIB dan 06.11 WIB dengan berita terakhir diunggah jam 08.30 WIB. Artinya ada jeda waktu kurang lebih satu jam untuk keperluan pembaruan satu berita.

Beberapa contoh diatas menunjukkan adanya variasi praktik speed-driven journalis. Mulai dari pembaruan berkala konten multiplatform CNN dalam liputan konflik Yaman, liputan investigatif dalam situs milik The Sydney Morning Herald  dan penyediaan tautan yang tidak terkait dengan berita utama seperti yang dilakukan oleh Detik Dotcom dalam liputan konflik Ahok dan DPRD DKI.

Format berita berseri dengan bentuk laporan pendek dan singkat secara gamblang telah menggeser standar layak berita. Media online beranggapan bahwa melalui pembaharuan berkala, standar akurasi dapat dibentuk, truth in the making. Namun secara faktual, tautan berita kadang tidak terkait dengan berita utamannya. Praktik “get it first, just get it first” tidak membantu audience dalam memahami informasi secara akurat dan lengkap. Mestinya, slogan itu berbunyi “get it first, , but more importantly, get it right”.

<0>