Jurnalisme Steno: Melaporkan Berita Nir-Konteks

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jurnalisme Steno Melaporkan-Peristiwa-Nir-Konteks (2)

TAK jarang, kita sebagai pembaca, menebak-nebak tentang apa yang sesungguhnya menjadi pokok persoalan dalam sebuah berita: isu apa yang disampaikan dalam berita tersebut. Sampai selesai membaca, kita tidak sepenuhnya memahami berita itu.

Mari kita melihat kutipan dua paragraf awal sebuah berita dari Viva.Co.Id  yang diunggah pada tanggal 1 April 2015.

Yusril: Di DPR Ada Langkah yang Mengarah ke Kekerasan 

“VIVA.co.id - Kuasa hukum Partai Golongan Karya Yusril Ihza Mahendra menekankan perlunya mempercepat penundaan terhadap keputusan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly perihal kepengurusan baru Golkar. Jika keputusan itu ditunda, Yusril memastikan akan banyak konflik bermunculan di daerah. 

‘Sekarang sudah terjadi di DPR langkah-langkah yang sudah mengarah kepada kekerasan. Begitu juga konflik horizontal di daerah-daerah. Jadi sekiranya keputusan itu tidak ditunda pelaksanaannya. Kemungkinan besar akan terjadi keadaan yang tidak dapat dipulihkan lagi,’ kata Yusril di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Timur, Rabu 1 April 2015.” 

Standar penulisan jurnalistik biasanya mengajarkan berita seharusnya memenuhi kelengkapan beberapa unsurnya, yaitu: peristiwa/isu apa yang diberitakan (what), siapa saja yang menjadi aktor-aktor (who), di mana dan kapan peristiwa/masalah itu terjadi (when, where). Lebih mendalam lagi, berita bisa mengeksplorasi aspek yang berkaitan dengan bagaimana peristiwa/masalah itu berlangsung (how), dan mengapa itu timbul (why). Tapi, apa yang hendak disampaikan berita tersebut.

Paragraf awal berita berbicara perkembangan mutakhir tentang “what”: penundaan keputusan menteri. Tetapi apa isi keputusan itu? Tidak ada sepenggal informasi pun di paragraf itu yang menjelaskannya. Kalimat berikutnya pun hanya memberikan perkiraan konsekuensi yang muncul jika keputusan itu ditunda.  Paragraf berikutnya, yang berisi kutipan Yusril, tetap tidak memberikan kejelasan tentang isi keputusan penting tersebut.

Sebagai berita bersambung, atau berita yang ditulis karena peristiwa atau isu yang dibahas mengalami perkembangan, penggalan berita di atas tidak didahului dengan informasi riwayat kontroversi tersebut. Tautan berita sebelumnya yang bisa membantu audiens memahami isu dan peristiwa yang jadi inti berita tidak disediakan, dan ringkasan peristiwa sebelumnya tidak pula disajikan. Pendeknya, kisah latar belakang (background story) absen dari potongan berita tersebut. Sampai akhir berita, pembaca ditinggalkan tanpa pernah mengetahui duduk masalah peristiwa itu.

Situs berita online bukanlah media yang berisi kumpulan artikel berita langsung atau potret-potret peristiwa belaka. Justru, dengan keluasan ruang yang ada, jurnalisme online mampu melakukan hal yang tidak selalu bisa dilakukan oleh jurnalisme cetak dan elektronik: menyajikan latar belakang peristiwa. Ia bisa berupa rangkuman berita sebelumnya yang hendak disambung dengan perkembangan selanjutnya. Dengan adanya kisah latar belakang tersebut, berita terbaru memiliki konteks, makna tertentu, dan arah perkembangan peristiwa – bukan sekedar rangkaian fakta dan pernyataan yang dibariskan.

Berita online yang berkonteks, kaya fakta dan perspektif semisal berita in-depth dan investigatif tidak selalu mengambil format konvensional. Sebagaimana Mark Tremayne (2006) yang melihat melihat manfaat teknologi online, ia menganjurkan pemanfaatan link  dan hyperlink ke berita sebelumnya sebagai teknik untuk memberikan latar belakang peristiwa. Bila perlu, berita online menyediakan link ke situs-situs sumber berita.  Nampaknya, CNN Indonesia.com telah melakukannya seperti ditemui dalam berita “Tim Antimafia Migas Pertamina Jujur Soal Harga BBM”. (Baca “Jurnalisme Tautan: Peluang vs Jebakan”).

Sayangnya, kebanyakan praktek jurnalisme online saat tidak secara maksimal memanfaatkan teknologi Internet untuk memperkaya praktik jurnalisme. Teknologi Internet justru terkesan membatasi gerak para jurnalis online dan memiskinkan berita yang dihasilkannya.

Jurnalisme konvensional sering dikritik pada sejumlah aspek. Pertama, jurnalisme konvensional bersandar pada sumber-sumber resmi dan berpengaruh saja. Kedua, jurnalisme konvensional terpaku pada satu aktivitas atau satu waktu saja. Ketiga, jurnalisme konvensional terjebak pada penanda waktu “hari ini” atau “besok” untuk menunjukkan aktualitas. Keempat, jurnalisme konvensional kerap menampilkan unsur “who”, “what”, “when”, dan “where” saja. Alih-alih untuk mengatasi kelemahan-kelemahan jurnalisme konvensional tersebut, teknologi online justru menjadi justifikasi bagi jurnalis online untuk mengunggah berita-berita yang nir-konteks. Gara-gara berlomba dalam hal kecepatan,  jurnalisme online malah memiskinkan kualitas pemberitaan. (Jurnalisme Online: Cepat Tapi Tidak Akurat).

Kita lihat contoh lain. Pada April 2015 lalu, publik online Indonesia diramaikan oleh polemik antara Restoran Marche dengan Leonita Julian tentang biaya pemakaian listrik untuk laptop pelanggan. Berita Merdeka.Com Harga di Setruk Pembayaran Ini Tidak Masuk Akal mengutip akun Path @Leonisecret (Leonita Julian) dan pernyataan humas Restoran Marche.

Sekilas, berita tersebut telah menjalankan prinsip cover both sides dengan menampilkan pernyataan kedua belah pihak yang berkonflik. Nyatanya, merdeka.com tidak pernah mengontak langsung Leonita Julian untuk menanyakan perihal status yang ia unggah di akun Path. Berita itu hanya bersandar pada pada kontak jurnalis Merdeka.Com dengan humas resto tersebut yang mengklarifikasi tagihan listrik di struk pembayaran. Muncul kesan unggahan Leonita di Path tidak kredibel. Padahal, ketika menggunggah status tersebut, Leonita menceritakan pengalaman buruk temannya. Mengutip status di akun media sosial tidaklah salah, namun jurnalis perlu memastikan keaslian akun dan konteks status pada akun tersebut. Selain itu, Merdeka.Com hanya membidik satu peristiwa yaitu “mengisi daya listrik untuk laptop dikenai tarif oleh Restoran Marche”. Berita awal Merdeka.Com tidak menempatkan peristiwa itu pada lensa isu perlindungan konsumen, atau kepantasan tarif daya listrik untuk pengunjung restoran, misalnya.

Shanto Iyengar (1991)  pernah mengingatkan bahwa berita-berita yang menempatkan peristiwa dalam urutan waktu (episodik) sulit memberikan pencerahan kepada pembaca mengenai hubungan antar peristiwa. Kekuatiran Iyengar tersebut sepertinya justru menjadi tren praktik jurnalisme online di Indonesia saat ini.  

Tak semuanya, tentu. Sebagian media online telah mempraktikkan praktik yang benar. Hanya saja, secara teknis kualitas rangkuman tersebut masih rendah. Berita online kerap menyalin-tempel (copy-paste) narasi artikel yang sudah terbit kemarin pada berita terbaru tanpa menulis ulang dengan ringkasan berbeda. Praktek salin-tempel itu terlihat pada berita di Detik Dotcom Bamsoet: Anggota DPR Sudah Wangi Semua, Hapus Anggaran Parfum Rp 2,3 M.

Berita online dengan peristiwa/isu/masalah nir-konteks adalah jurnalisme online yang gagal. Pada 2008 Clark Hoyt pernah menulis bahwa “jurnalisme yang semata-mata stenografi peristiwa adalah menyesatkan dan tidak akan memberikan manfaat kepada para pembaca.”.

<0>