Jurnalisme Tautan: Peluang vs Jebakan

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jurnalisme-Tautan

TAUTAN adalah fitur penting bagi portal berita online. Tautan membantu jurnalis menyampaikan cerita kompleks dengan ringkas dan cepat tanpa mengganggu alur berita utama (Stray, 2010b). Dengan ruang yang relatif tak terbatas, tautan berfungsi mempresentasikan cerita yang tidak linear, mempunyai banyak sub-plot, tetapi jika disatukan presentasi berita menjadi bertele-tele (Cohen, 2010).

Dari sisi pembaca, tautan memenuhi kebutuhan berita online yang cepat, ringkas tetapi tajam, atau dalam istilah Stray (2010b) “Short, Sharper, and Snappier”. Biasanya, berita yang cepat tidak akurat, tidak lengkap, dan nir-konteks. Tautan memungkinkan presentasi berita ringkas dan cepat tanpa mendistorsi konteks (Tremayne, 2004). Karakter hypertextuality tersebut memungkinkan setiap berita bertautan dengan berita-berita lainnya.

Idealnya, tautan dimanfaatkan jurnalis mengatasi keterbatasan media konvensional. Maeyer (2012) membayangkan empat manfaat tautan, yaitu 1) memberikan kontrol informasi kepada pembaca, 2) meningkatkan kredibilitas, 3) transparansi proses pencarian fakta, dan 4) memberikan keragaman perspektif. Sayangnya, fungsi ‘tautan’ belum dimanfaatkan optimal oleh para jurnalis online.

Sebagai contoh, tautan seharusnya memberikan bantuan pembaca mendalami suatu isu. Di Indonesia, tautan yang disediakan justru lebih banyak menawarkan berita lain yang sedang popular. Cohen (2012) menyebut gejala ini dengan ‘polusi informasi’. Pola ini dapat memecah konsentrasi bahkan membingungkan pembaca. Pada pemberitaan detik.com misalnya, di sisi kanan berita yang dimunculkan adalah ‘Berita Terbaru’ dengan banyak iklan komersial di sekitarnya. Baru setelah scroll down kita akan menemukan ‘Baca Juga’. Itupun diganggu dengan berita ‘Most Populer’, ‘Most Commented’, dan ‘Foto Terkait’.

Menawarkan berita lain yang tidak terkait sebenarnya boleh tetapi dengan jumlah dan penempatan yang proporsional. Seperti portal berita CNN.com, berita terkait ditempatkan berdekatan dengan berita utama. Sedangkan berita lainnya ditempatkan di bagian bawah. Di Indonesia, yang cukup proporsional memberikan tautan adalah Kompas.com. Sebagai contoh pemberitaan mengenai Megawati dalam Kongres PDIP. Di sisi kiri, Kompas sudah menyediakan tautan berita ‘Terkait’, sehingga lebih mudah dijangkau oleh pengguna.

Selain itu, tautan dapat membantu jurnalis meningkatkan kredibilitas berita dengan memberikan konteks dan informasi selengkap-lengkapnya. Dalam media konvensional, konteks dijelaskan dengan memaparkan kembali perkembangan berita sebelumnya. Kelengkapan infomasi disajikan dengan mengoptimalkan ruang yang ada dalam media tersebut. Cara ini bertujuan agar pembaca memahami sebuah berita dengan utuh. Sedangkan di media online, cara tersebut dapat diganti dengan cukup mentautkan berita terkait.

Sayangnya, tautan berita terkait yang disebut dengan beragam label, seperti ‘selengkapnya’, ‘baca juga’, dsb, tingkat relevansinya masih beragam. Berita terkait yang seharusnya memberikan

konteks berita dan membangun pemahaman yang utuh soal suatu isu, malah memberikan isu yang tidak berkaitan langsung atau bahkan berbeda sama sekali.

Sebagai contoh pemberitaan mengenai Jokowi dalam kongres PDIP. Inilah.com memberikan berita terkait justru soal pernyataan prabowo (lihat di sini). Selain itu, dalam ‘berita terkait lainnya’, ada berita mengenai rencana ‘Jokowi Mantu’ yang tidak relevan dengan pemberitaan mengenai Kongres PDIP tersebut.

Pola tautan ini menyulitkan pembaca mendapat informasi utuh. Apalagi ditambah dengan update yang cepat. Update tersebut memungkinkan daftar tautan dalam sebuah laman berubah dalam beberapa detik saja. Hal ini semakin menyulitkan pembaca untuk menemukan ‘jejak berita’. Transparansi proses news gathering tidak terpenuhi.

Uniknya lagi, tautan bukan untuk memberikan informasi pendukung melainkan untuk memenggal cerita. Satu berita sengaja tidak dituliskan lengkap di satu laman melainkan bersambung di laman lain yang ditautkan. Gejala ini disebut dengan chunking journalism. Pola ini tidak memberikan tambahan informasi berarti bagi pembaca tetapi memaksa pembaca meng-klik laman berikutnya. Pola ini bertujuan meningkatkan hits suatu web. Salah satu media yang kerap melakukan pemenggalan ini adalah kapanlagi.com. Alih-alih memberikan keragaman perspektif, media online memanfaatkan tautan untuk sekedar meningkatkan traffic.

‘Tautan’ dibayangkan menjadi ‘fitur canggih’ yang berguna untuk meningkatkan kualitas jurnalisme online, yaitu meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan keberagaman perspektif, dengan tetap memberikan kontrol informasi kepada pengguna. Tautan sebenarnya dapat membantu jurnalis maupun pembaca untuk membagi cerita yang kompleks dan tidak linear dalam satuan berita ringkas yang bertautan satu sama lain. Sayangnya, sejauh ini tautan belum banyak membantu pembaca bahkan berpotensi menyesatkan pembaca.

<0>