Kriteria Jurnalisme Publik Tidak Banyak Dipenuhi Media Online

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Adam Wijoyo Sukarno, SIP, MA sedang memaparkan hasil riset Digi-Journalism (23/9)

Adam Wijoyo Sukarno, SIP, MA sedang memaparkan hasil riset Digi-Journalism (23/9)

Jurnalisme publik pada dasarnya menitikberatkan pada hadirnya masalah publik serta keberagaman suara publik tanpa meninggalkan kaidah profesionalitas jurnalistik. Namun, media online Indonesia tidak mengindahkan pentingnya elemen kepublikan dalam liputannya. Riset yang dilakukan Tim Peneliti Digi-Journalism.or.id mengindikasikan hal tersebut.

Berita yang tidak mendalam dan mengabaikan kepentingan publik menjadi masalah utama media daring. Akibatnya, muncul berita-berita sensasional yang mengaburkan informasi bagi publik. Ditambah lagi, karakter medium internet yang tidak terbatas tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh media daring lantaran mengejar kecepatan. Hal-hal tersebut yang melatarbelakangi Digi-Journalism melakukan riset tentang “Rating terhadap 5 Media Online Menggunakan Kriteria Jurnalisme Publik” selama Maret-Agustus 2016. Hasil riset tersebut dipaparkan dalam acara “Diseminasi Penelitian dan Pembentukan Komunitas Digi-Journalism” di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada lantai 2 pada Jumat (23/9).

Dalam penelitian tersebut, tim Digi-Journalism memilih lima situs berita yang memiliki ranking tertinggi dalam situs Alexa (alexa.com) sebagai objek penelitian, yaitu Kompas.com, Detik.com, Tribunnews.com, Liputan6.com, dan Merdeka.com. Kemudian, topik berita yang dipilih dalam penelitian ini adalah simposium 1965, harga daging sapi, dan reklamasi Pantai Jakarta. Ketiga topik tersebut dipilih karena bersinggungan dengan kepentingan publik dan mewakili tiga topik besar, yaitu ekonomi (harga daging sapi), politik (reklamasi Pantai Jakarta), dan sosial budaya (simposium 1965). Selain itu, tiga isu tersebut juga menjadi topik yang hangat selama penelitian berlangsung di lima situs tersebut.

Penelitian ini menggunakan sejumlah kriteria jurnalisme publik sebagai instrumen untuk mengukur objek penelitian. Kriteria jurnalisme publik menekankan pada aspek substansi di antaranya mencakup konteks masalah, keberagaman perspektif publik, kedalaman pembahasan isu, relevansi narasumber, serta orisinalitas data. Sementara itu, kriteria teknikalitas lebih menekankan kepada elemen akurasi, verifikasi berita, kelengkapan berita, dan akuntabilitas sumber. Setiap kriteria juga memiliki indeks maksimal yang menggambarkan kualitas rating media tersebut. Semakin tinggi nilainya, maka rating media tersebut semakin baik. Indeks maksimal aspek substansi dan teknikalitas berturut-turut adalah  8 dan 6.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan pada aspek substansi Kompas.com memiliki indeks paling tinggi di semua topik dibanding keempat media lainnya. Artinya, pemberitaan Kompas.com.com pada isu simposium 1965, harga daging sapi, dan reklamasi pantai utara Jakarta telah banyak memenuhi kriteria jurnalisme publik dibandingkan dengan empat media lainnya. Semua media online yang diteliti kecuali Kompas.com tidak memenuhi banyak kriteria jurnalisme publik pada isu simposium 1965. Pada isu harga daging sapi, hanya Liputan6.com yang tidak mencapai indeks 7. Media online tampak lebih menguasai kriteria jurnalisme publik untuk topik ekonomi (harga daging sapi).

capture1

Pada aspek teknikalitas, kelima media menunjukkan nilai yang tinggi di semua topik dan hampir mendekati nilai ideal. Kompas.com, Detik.com, Tribunnews.com, Liputan6.com, dan Merdeka.com memiliki nilai yang tidak jauh berbeda pada setiap topik. Ini berarti, lima situs berita tersebut memiliki kualitas rating yang baik pada kriteria teknikalitas.

capture3

Tingginya rerata indeks media online di aspek teknis jurnalisme publik dan sebaliknya rendahnya rerata indeks di aspek substansi menunjukkan bahwa media online Indonesia telah terbiasa bekerja sesuai dengan prosedur jurnalistik namun kurang memberikan perhatian pada terpenuhinya keberagaman representasi suara publik dan kriteria-kriteria lain jurnalisme publik.

Rangkuman hasil riset dapat dilihat pada tautan Hasil Riset Digi-Journalism 2016.