Mau Dibawa Ke Mana Jurnalisme Online Kita?

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

asa

[Jog] SAAT ini media online berkembang menjadi referensi utama bagi masyarakat untuk mendapatkan berita. Akan tetapi jurnalisme online di Indonesia masih mencari bentuk. Model berita semacam apa yang tepat untuk media online kita? Anggota Dewan Pers Nezar Patria menyebut jurnalisme online tak harus identik dengan berita pendek yang kerap tidak akurat. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk Tren Jurnalisme Online yang digelar pada Sabtu (24/9).

Bertempat di Padepokan Asa, Sleman, Yogyakarta diskusi ini dimoderasi oleh A. Sapto Anggoro, CEO dan Pimpinan Redaksi tirto.id. Selain Nezar Patria sebagai pembicara,  hadir pula Koordinator Sekolah Jurnalistik AJI Yogyakarta Anang Zakaria.

Pangkal persoalan kualitas jurnalistik dari jurnalisme online di Indonesia menurut Nezar adalah kecepatan mengorbankan akurasi, dangkal (tidak ada background) dan berita pendek (tanpa konteks), kurang orisinil (duplikasi), bahasa kurang tertata, foto sering tidak relevan dan verifikasi lemah. Hal ini kemudian berimbas pada pengaduan publik terhadap media online ke Dewan Pers. Sepanjang tahun 2015 tercatat 95 kasus pengaduan, 75% kasus yang diadukan bersumber pada kesalahan media karena kurang akurat, berita tidak berimbang, serta mencampurkan opini dan fakta yang menghakimi.

Namun di tengah kondisi tersebut, Nezar dengan tegas menyatakan bahwa jurnalisme online bisa berbuat lebih dari yang dituduhkan—yaitu terjebak dalam kedangkalan jurnalisme—salah satunya adalah dengan kehadiran kembali jurnalisme naratif yang dipopulerkan oleh Tom Wolfe pada tahun 1970. Jurnalisme naratif atau yang saat ini dikenal dengan istilah longform diyakini sebagai antitesa dari arus jurnalisme online yang serba cepat dan penulisan berita yang dangkal. Perpaduan antara longform dan media online menghadirkan kebangkitan penceritaan digital (digital storytelling) yang mengacu pada teks, grafik, video, dan suara yang diolah dan diintegrasikan dalam satu bentuk format digital yang digunakan dalam penyajian sebuah berita.

Salah satu contoh longform yang paling mumpuni adalah laporan yang diterbitkan oleh The New York Times pada 2012 lalu, berjudul “Snow Fall: The Avalanche at Tunnel Creek,” sebuah laporan panjang tentang musibah longsor salju yang melibatkan 16 orang pemain ski terkenal di Pegunungan Cascade, Washington, Amerika Serikat. Laporan yang ditulis oleh John Branch ini berhasil meraih Pulitzer pada tahun 2013 untuk kategori penulisan feature yang mengintegrasikan elemen-elemen multimedia. Berangkat dari proyek longform yang dimulai oleh The New York Times ini, beberapa media besar seperti CNN dan The Guardian terinspirasi untuk memiliki kanal longform di laman websitenya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sapto selaku CEO dan Pimpinan Redaksi tirto.id. Ia menekankan bahwa media online harus “patuh” pada ekosistemnya, meletakkan praktik dan etik jurnalistik sebagai landasan utama, di samping harus memperhatikan pemilihan keyword untuk sebuah berita yang akan diunggah karena keyword adalah kunci agar berita tersebut tidak hilang tertelan di internet. Keyword yang dipilih harus disesuaikan dengan algoritma Google dan Facebook. Menurut Sapto, algoritma Google yang terbaru adalah longform dan orisinalitas, oleh karena itu tirto.id selalu berusaha untuk “mematuhi” aturan ekosistem tersebut.

Sementara itu Anang menekankan pada kekuatan data. Jurnalisme online semestinya mampu berbuat lebih banyak dengan ketersediaan dan akses pada data yang lebih mudah. Menurutnya, data bisa jadi sumber jurnalisme data atau menjadi alat untuk menceritakan peristiwa. Ia juga memaparkan beberapa aplikasi yang sangat membantu jurnalis media online untuk mengolah data dan menyajikan laporan berita, diantaranya import.io, easel.ly, infogr.am, storymap.knightlab.com, juxtapose.knightlab.com, dan timeline.knightlab.com. Semua aplikasi tersebut dapat digunakan oleh jurnalis untuk meramu sebuah berita longform dan mengintegrasikannya dengan elemen-elemen multimedia.

Berkaca pada perkembangan media online di tingkat global tersebut, format berita longform yang dipadukan dengan elemen-elemen multimedia adalah arah baru jurnalisme online. Sementara itu, di Indonesia baru beberapa media online yang bergegas menuju arah baru jurnalisme online ini, yaitu vik.kompas.com, thejakartapost.com, x.detik.com dan tirto.id. Selebihnya nampaknya sudah begitu nyaman dalam buaian teknologi hingga malas untuk bergerak.

(SP)

<0>