Ungoverned Territory: Jurnalisme Online di Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dua puluh tahun yang lalu, di bulan Maret 1995, Majalah Time hadir di publik dengan judul sampul yang futuristik: ‘Welcome to Cyberspace.’ Dalam edisi khusus dengan sponsor tunggal raksasa telekomunikasi AT&T ini, Time menyambut kedatangan era baru digital dan merayakan terbentuknya sebuah global village atau kampung global.

Di setiap rubrikasi, Time merinci dan mendeskripsikan gelombang perubahan yang dibawa internet, mulai dari kehadiran e-commerce atau transaksi perdagangan melalui internet, kemunculan e-learning atau sekolah jarak jauh berbasis internet, televisi digital, kencan lewat internet, sampai dengan kemunculan modus kriminalitas baru yang disebut dengan cyber-crime. Bisnis media pun berubah ketika platform tradisional media cetak, televisi dan radio analog mulai tersaingi oleh platform digital yang multimedia.

Satu dekade kemudian, tahun 2005, dalam pertemuan tahunan redaktur suratkabar di Amerika Serikat, taipan bisnis media Rupert Murdoch menyampaikan evaluasi atas gelombang digitalisasi yang telah melanda bisnis media dan jurnalisme. Salah satu kalimatnya menyitir nujum yang umum beredar di masa itu: jaman akhir surat kabar sudah dekat. Dan ia menyampaikan lagi sebuah pernyataan yang merangkum sebuah revolusi yang sedang menggoyang kemapanan standar professional dan etis dalam bisnis pemberitaan:

“Saya tumbuh dewasa dalam sebuah dunia di mana informasi dan pemberitaan dikontrol secara ketat oleh para redaktur media yang menjejalkan kepada kita jenis isu pemberitaan yang kita konsumsi. Kini kita harus menghadapi tantangan baru … dan kita harus mereka-ulang standar [profesional] kerja jurnalisme dengan kehadiran [platform digital] …Ini termasuk mengubah tradisi [jurnalisme] yang telah mapan selama berabad-abad.” 

Sepanjang dua dekade sejak munculnya edisi khusus Time, Indonesia juga mengalami revolusi  yang mirip dan masih terus berlangsung hingga kini. Dan problem yang dihadapi Murdoch sekarang hadir di depan mata: para pemilik media mencari-cari model bisnis media yang cocok dengan perkembangan teknologi digital, sementara para awak redaksi mencoba melakukan adaptasi dan merumuskan model organisasi keredaksian baru serta standar profesionalitas mutakhir dalam bisnis pemberitaan.

Awalnya, para pengelola media konvensional – yang di belahan Barat disebut sebagai “legacy media” – melakukan ujicoba dalam beberapa bentuk. Sebagian dari mereka hanya mengubah format Koran ke format elektronik dan memindahkannya secara persis di portal mereka. Mereka yang berangkat dari bisnis berita televise membuka portal berita dengan muatan verbatim berita-berita yang telah ditayangkan sebelumnya. Mereka yang mengawali dari nol, mendirikan portal berita dengan mengadaptasi model impor. Detik Dotcom, trend-setter portal berita online di Indonesia bias dikatakan mengawali dari nol karena Detik Dotcom bukanlah penerus versi cetak yang sempat dibredel tahun 1994 – bersama-sama dengan media cetak lain.

Belakangan, dua legacy media, Kompas dan Tempo majalah, membangun rel ganda dengan tetap menjual versi cetak mereka secara elektronik seraya mengembangkan portal kompas.com dan tempo.co. Yang mutakhir dari semua portal itu adalah pengembangan platform multimedia yang menyatukan layanan berita verbal, audio, dan video.

Masa peralihan ke portal berbasis internet merekam pula adaptasi para professional jurnalis dalam menghadapi kecamuk digitalisasi jurnalisme sebagaimana dikatakan oleh Murdoch.

Pertanyaan pokoknya: Dalam masa formatif jurnalisme online di Indonesia, sejauh mana standar profesional dan etika lama masih relevan dan tetap dipakai sebagai panduan oleh para pengelola media dan para jurnalis?

Di belahan dunia lain, komunitas jurnalis, para akademisi, think tanks independen telah memulai diskusi panjang tentang perubahan yang  dibawa teknologi digital dalam kerja dan bisnis jurnalisme. Di Eropa, misalnya, The European Journalism Centre (ECJ), sebuah konsorsium jurnalis yang mencoba membuka dialog  tentang etika dalam jurnalisme online. Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, juga menaruh konsern yang sama dengan mengembangkan lembaga yang memiliki konsern terhadap isu-isu etika jurnalisme di era digital: Journalism Ethics for Global Citizens. Sementara, Society of Profesional Journalist (SPJ), juga di Amerika Serikat, memiliki konsern yang mirip. Organisasi ini, melalui diskusi dan workshop jurnalisme yang dilakukannya, berupaya mendorong perkembangan jurnalisme di era digital agar memproduksi informasi yang sehat bagi warga negara.

Daftar ini dapat kita perpanjang terus. Yang  menyamakan lembaga-lembaga ini adalah perhatian dan upaya mereka untuk mengendalikan arah adaptasi para jurnalis profesional dalam menyuarakan dan melindungi kepentingan publik.

Di Indonesia, upaya yang sama juga telah berjalan. Dewan Pers, misalnya, pada tahun 2012 telah mengeluarkan panduan Media Siber yang diharapkanmenjadi kompas profesionalitas dan etika para jurnalis media online – melengkapi panduan “legacy” Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI). Organisasi professional seperti Asosiasi Jurnalis Independen (AJI) juga secara kontinyu menggelar workshop untuk membekali anggotanya menghadapi situasi baru jurnalisme  digital.

Dalam derajat tertentu, sekarang ini, jurnalisme online atau jurnalisme digital seolahsebuah ungoverned territory – sebuah wilayah tak bertuan. Dewan Pers dan asosiasi professional wartawan hanya menjadi salah satu actor saja yang ikut mengendalikan perkembangan jurnalisme online di Indonesia. Aktor lain – yang memiliki kekuatan lebih hebat – ikut mewarnai perkembangan jurnalisme online di sini meskipun belum tentu untuk kepentingan publik. Website jurnalisme online (www.digi-journalism.or.id) atau digi-journalism ini hadir dengan semangat  yang sama.

Website ini menjadi forum diskusi dan pencarian panduan baru – profesional dan etis – untuk semua pihak yang memiliki konsern terhadap jurnalisme dan kepentingan publik. Fungsi situs digital ini adalah membuka ruang dialog, dan bukan ruang khotbah. Kalau pun ada posisi spesifik yang hendak diambil para pengelola website ini, website ini berupaya untuk melihat persoalan jurnalisme online di Indonesia dari perspektif komparatif. Seraya melihat situasi kontekstual Indonesia, website ini selalu mencoba menempatkan pengalaman Indonesia dalam perbandingan dengan situasi-situasi di tempat lain: di Barat atau Timur, Utara atau Selatan. ***