“Truth in the making”

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

truth-in-the-making

TRUTH in the making” bukanlah sebuah istilah standar yang dikenal dalam dunia jurnalisme. Ini sebuah frasa baru yang disodorkan seorang pengelola portal berita pada sebuah workshop jurnalisme online bulan Oktober 2014 lalu di Jakarta untuk menggambarkan kecenderungan yang melanda praktik  jurnalisme di Indonesia.

Truth atau kebenaran jurnalistik memiliki makna yang spesifik, yakni sebuah sebuah proses penuh disiplin untuk menemukan, menyambung, dan melakukan verifikasi terhadap berbagai fakta yang menjadi bahan pokok sebuah berita. Dalam menulis berita, misalnya, sang wartawan harus mendapatkan fakta peristiwa atau pernyataaan serta melakukan verifikasi dan validasi ke sumber-sumber yang bisa dipercaya, memastikan akurasi proses kejadian, sekaligus merangkum sudut pandang yang majemuk. Proses verifikasi dan validasi ini, untuk suratkabar harian, dilakukan dalam jangka waktu 24 jam. Majalah berita mingguan memiliki ruang yang lebih panjang untuk mejalankan proses itu.

Kedatangan televisi mengguncang rutinitas tenggat waktu para jurnalis dalam mengabarkan berita ke publik.

Mengikuti kehadiran CNN, kanal khusus berita yang berputar terus dalam siklus 24 jam, sejumlah istilah baru muncul untuk menggambarkan perubahan itu. Misalnya, istilah “24 hours, wall-to-wall”. Jika “24 hours” merujuk pada proses peliputan yang non-stop sehari-semalam, wall-to-wall, yang secara literal berarti pembahasan seluruh aspek peristiwa dari satu pojok dinding ke pojok dinding lainnya, berfungsi untuk mempromosikan kelengkapan sebuah liputan.

Pada praktiknya, pemutakhiran pemberitaan di televisi lazimnya masih terbagi dalam siklus 6 jam yang dikemas dalam istilah bulletin siang, sore, malam dan pagi hari. Di sela siklus 6-jam ini breaking news disisipkan ketika muncul peristiwa penting secara mendadak.

Kemudian datanglah internet yang merombak lagi rutinitas itu secara lebih radikal.  Kini batas dan rentang tenggat waktu itu lumer. Berkat teknologi internet, setiap jam dan bahkan setiap menit, berita bisa diunggah tanpa kesulitan teknis yang berarti. Cukup dengan sebuah gadget telpon selular, jurnalis di lapangan bisa terkoneksi dengan ruang redaksi, dan hanya dengan tiga paragraf sebuah berita bisa dikabarkan ke khalayak secara instan. Perkembangan sebuah peristiwa bisa diperbarui setiap saat dengan menambah satu atau dua paragraph baru.

Jika pemutakhiran berita dilakukan dalam hitungan menit, kapan validasi sebuah pernyataan yang dilontarkan narasumber dan verifikasi fakta yang menopang sebuah berita bisa dilakukan?

Di sinilah frasa truth in the making muncul dalam praktik jurnalisme online di Indonesia dan nampaknya lazim dijadikan pegangan dalam penulisan berita online. Validasi sebuah pernyataan, bantahan terhadap sebuah tuduhan, dan penelusuran kembali fakta-fakta yang menopang narasi sebuah berita dimuat dalam item-item berita yang berbeda-beda waktu unggahannya. Ini salah satu contoh praktik jurnalisme online yang kini melanda Indonesia:

Berita 1: 

JAKARTA, KOMPAS.com– Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung menyangsikan data yang disebut calon presiden Prabowo Subianto mengenai adanya kebocoran anggaran mencapai Rp 7.200 triliun. Menurut dia, jumlah itu terlalu berlebihan lantaran pengawasan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selama ini dilakukan dengan ketat. 

“Semua kan sudah jalan. Pengawasan kan sudah luar biasa. Pengawasan itu sudah ada KPK, kejaksaan agung, kepolisia, BPK, sudah dilakukan seperti itu. Jadi menurut saya mungkin agak terlalu berlebihan,” ujar Chairul di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (17/6/2014).i 

Berita 2: 

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Penasihat Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Akbar Tandjung, membantah bahwa timnya disebut tak valid dalam memberikan materi kepada Prabowo sebagai bekal dalam debat kedua calon presiden, Minggu (15/6/2014) lalu. Akbar mengatakan, timnya telah menjelaskan bahwa kebocoran anggaran negara yang disebutkan Prabowo merupakan potensi jika pengelolaan keuangan tidak maksimal.  

Ia mencontohkan, salah satu sumber potensi kebocoran negara yaitu pengelolaan sumber daya alam yang tidak benar. Harga jual gas Tangguh Papua, kata Akbar, seharusnya dapat lebih tinggi daripada harga jual saat ini. Jika diperhitungkan, maka potensi kerugian keuangan negara bisa mencapai Rp 7.000 triliun. 

“Apabila kita tidak mengelola alam terutama di sektor minyak dan gas bumi tidak sungguh-sungguh dan tidak sepenuhnya buat kemakmuran rakyat, akibatnya terjadilah kebocoran-kebocoran,” kata Akbar, di Rumah Polonia, Rabu (18/6/2014). [semua huruf tebal asli sebagaimana di teks berita].ii

Kedua item berita tersebut diunggah dua hari berurutan pada jam yang berbeda. Item pertama diunggah di hari Selasa pada jam 18.43 WIB, sementara item ke dua diunggah di hari rabu pada jam 22.40 WIB. Pemuatan keduanya berselisih 30 jam.

Pertukaran pendapat ini bersifat tipikal dan umum belaka dalam kerja jurnalisme. Apalagi konteks dari berita itu adalah perdebatan para calon presiden pada Pemilu Presiden 2014. Dan sekilas, dua pihak yang berdebat mendapat peluang yang sama untuk disiarkan dan kesempatan yang sepadan untuk menjangkau publik.

Dari rangkaian berita yang yang terpisah namun bersambungan ini proses pencarian kebenaran jurnalistik – yakni verifikasi dan validasi fakta – bisa dilakukan. Dus, standar obyektivitas jurnalistik yang menjadi basis kerja jurnalis tidak dibuang sama sekali. Argumen truth in the making mendapatkan pembenarannya di sini.

Namun, kita boleh melihatnya dengan cara lain. Publik pengakses item berita yang pertama bisa saja berbeda dengan publik yang ke dua. Alhasil, masing-masing kelompok publik mendapatkan perspektif dan informasi yang berbeda. Publik pertama mungkin akan mendapatkan kesan negatif terhadap Capres Prabowo karena di item berita pertama dia dikesankan salah dalam mengutip data. Sedangkan publik ke dua mungkin saja  mendapatkan kesan netral dari berita ke dua, karena item ke dua itu adalah rejoinder atau respon dan klarifikasi dari kubu Prabowo. Dalam situasi ini, tidak ada jaminan bahwa kedua publik itu membaca kedua berita itu. Apalagi jika masing-masing publik itu mengakses berita itu melalui mesin pencari yang memperlakukan setiap item berita sebagai item yang berdiri sendiri.

Argumen truth in the making, karena itu, memiliki kelemahannya sendiri. Fitur hypertext dan hyperlink – atau kita terjemahkan menjadi tautan – memungkinkan jurnalis dan redaktur untuk memfasilitasi proses pencarian kebenaran secara bertahap, penggalan demi penggalan, dan kemudian semua penggalan tersebut itu disatukan dalam sebuah bundel. Karena itu, argumen ini berlanjut, standar profesionalitas dan etika mestilah mengakomodasi karakter teknologi baru itu. Apa artinya teknologi internet jika kemungkinan percepatan penyajian dan penyampaian berita ke khalayak tidak dimanfaatkan?

Sepintas, argumen ini meyakinkan. Tetapi argumen ini sesebenarnya bersandar pada tiga asumsi yang agak goyah. Pertama, bahwa proses validasi dan verifikasi itu memang dilakukan oleh sang jurnalis. Ke dua, penggalan-penggalan berita yang memuat kedua proses standar ini memang dibundel dalam hyperlink atau percabangan tautan yang memudahkan pembaca dan pengguna internet melacak keseluruhan berita yang terkait. Ke tiga, kita mengadaikan konsumen berita online mau bersusah payah mengklik berbagai tautan itu dan membaca seluruh rangkaian berita di portal yang memuatnya.

Kenyataannya, para jurnalis tak selalu melakukan verifikasi dan validasi; tautan berita yang diberikan di banyak portal tidak selalu berujud bundel berita yang komplit dan sistematis; dan banyak konsuen berita online yang mencari informasi dari mesin pencari semacam Google. Akibatnya, untuk poin terakhir, informasi yang didapatkan konsumen tidaklah berupa bundel berita tetapi satu item berita yang berdiri sendiri. Belum lagi kalau kita berbicara tentang kebiasaan konsumen media sosial yang hanya membaca satu item berita dari satulink berita – yang kebetulan sumir tetapi merambah ribuan pembaca. Ribuan orang inilah yang membaca dan lantas menyebarkan penggalan berita sumir, tidak seimbang, dan tanpa konteks.

Pendeknya, argumen truth in the making sesungguhnya bersandar pada fondasi yang guyah.

Sejumlah portal berita yang memiliki tradisi jurnalistik yang panjang sebelum kehadiran teknologi digital internet seperti BBC dan New York Times memilih jalan tengah. Mereka beradaptasi dengan teknologi baru dengan memafaatkan kelebihan internet dalam urusan kecepatan, dan pada saat yang sama mereka memberikan ruang yang cukup bagi jurnalis dan redaksinya untuk melakukan validasi dan verifikasi dalam sebuah berita. Resikonya, kecepatan dan pemutakhiran berita-berita di portal mereka tidak seagresif sejawatnya di Indonesia. Kelebihannya, standar baku verifikasi dan validasi fakta tetap terpelihara. Jalan tengahnya adalah memberikan jarak waktu yang cukup bagi wartawan untuk bekerja sesuai standar profesionalitas – dengan menetapkan batas waktu minimal dan maksimal dalam proses validasi dan verifikasi. Satu dua portal di Indonesia telah bereksperimen dengan jalan tengah ini. Selebihnya, nampaknya tidak peduli.

<0>