Visual Interaktif Kompas.Com: Mari Melihat Berita

Cetak artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

VIK Mari Melihat Berita_warna

AKHIR Februari 2016 lalu, Kompas meluncurkan VIK (Visual Interaktif Kompas). Dengan memadukan kekuatan multimedia seperti foto, video, audio, maupun grafis VIK.Kompas.com menyajikan berita panjang. Ia tidak hanya mengajak netizen untuk membaca berita, melainkan melihat berita. VIK.Kompas.com juga membuktikan membaca berita tak harus linear.

Tampilan laman Home VIK.Kompas.com memikat. Foto still atau animated menjadi latar penuh dari narasi judul berita. Judul-judul utama dijumpai dengan scroll down atau mengklik menu “Lihat Semua.” VIK.Kompas.com tidak menggunakan istilah “Baca” sebagaimana umumnya, namun “Lihat” untuk mengakses judul utama. Begitu netizen mengklik salah satu judul, muncul berita topik tertentu dengan sajian rupawan. Infografis dapat bergerak, video melengkapi narasi, dan foto jurnalistik menghiasi layar. VIK.Kompas.com mengoptimalkan pengalaman virtual kala membaca berita online.

Berita VIK.Kompas.com memang enak dilihat, dialami, tidak cuma untuk dibaca. Tapi, jika menengok kepanjangan namanya, di manakah letak interaktivitasnya? Alih-alih adanya komunikasi antara netizen dan redaksi, interaktivitas itu barangkali terletak pada peluang netizen untuk memilih: topik mana, atau bagian mana dulu dari topik yang ingin ia lihat. Membaca berita tak harus dilakukan secara linear, dimulai dari bagian 1 dan seterusnya, melainkan dimulai dari bagian yang diminati terlebih dulu.

Salah satu berita VIK.Kompas.com, misalnya Mencari Tuan Baru KALIJODO melaporkan penggusuran kawasan Kalijodo di DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Berita itu terdiri dari empat bagian yang mengulas rentang sejarah Kalijodo di masa lalu hingga masterplan rencana penataan kawasan Kalijodo masa depan. Netizen dapat memilih bagian mana yang ingin ia lihat dulu.

Setiap bagian berita mengandung foto, sejumlah video, dan narasi terkait topik. VIK.Kompas.com juga menyertakan infografis luas kawasan Kalijodo, jumlah penduduk dan jumlah bangunan, serta timeline penggusuran Kalijodo dari 1979 hingga 2011. Terdapat pula fitur Google Map serta Google Street View yang terintegrasi dengan berita. Dua fitur Google ini memperkuat narasi berita dalam mendeskripsikan sebuah tempat sehingga mempertegas perspektif netizen akan kawasan Kalijodo.

VIK.Kompas.com mendahului media-media online lainnya yang masih umumnya terdiri dari foto/ilustrasi dan teks saja. Media itu mengingatkan sifat online yang tiada batas, multimedial, konvergen, dan unilinear.

(SP/GP)